Jumat, 02 Agustus 2013

Puncak Makrifat Jawa

 Ma'rifat   Orang Jawa. 

          Orang Jawa adalah oarang yang lahir di Jawa, Keturunan orang Jawa berbahasa Jawa beradat istiadat Jawa. Orang Jawa sangat dekat dengan alam raya. sehingga menyebut segala sesuatu dengan sebutan yang bersifat menghormati. bentuk penghormatan tersebut adalah hasil ledakan pemikiran dan kelebihan "waskithaning manah"  dalam memahami dan merasakan betapa pentingnya menjaga hubungan yang saling menguntungkan, dan "roso pangroso". adanya rasa empati, tepo salirotepo maknanya dapat menempatkan diri sesuai kadar ukurannya saliro bermakna diri, empan Papan yang tidak sama dengan pribadi munafik, tetapi dapat menempatkan diri sesuai tuntutan pada masanya.
         Orang Jawa memiliki ilmu kejiwaaan yang paling besar , yakni ilmu "Ketangga" yang berasal dari kata Keteging (Keteg=angan-angan, Angga,artinya  angangan yang berada dalam batin manusia yang medapat motivasi dari nalar yang halus. dengan Keteg, maka manusia akan hidup dengan normal, karena Keteg akan menjadi modal membangun jiwa yang hidup tenang. Sebagai contoh Keteg adalah " apa fungsi kita hidup, akan ke mana setelah hidup, dan sebagainya. dengan kesadaran, maka seseorang akan menghayati dan memberi makna tentang ayat-ayat alam yang ditangkap, karena pada kurun waktu tertentu ayat-ayat alam tersebut akan berulang dan bergulir sebagai suatu siklus.
         Jiwa Orang Jawa yang selalu bergerak, karena orang yang hidup adala memeiliki laku,tidak statis. sehingga bagaikan benda yang bergera selanjutnya alama akan menyeleksi dan memilah anatara inti dan sampah. Dengan ketekunan  mencermati hubungan dengan alam sekitarnya, orang jawa mampu mengolah rasa sebagai  rasa pangrasa, panggihing rasa. kemudian muncul rasa rumangsa  yang muncul dari kesadaran jiwa "eling" . selanjutnya akan muncul " sejatining rasa" yaitu rasa yang tidak dipengaruhi oleh rasa-rasa yang lain. sebagai kesampurnaan itu sendiri, rasa sejati sejatining rasa, akan menumbuhkan grahita  sehingga hidup bisa tenang dan betul-betul jernih, seakan segala hidupnya sudah dituntun oleh kebenaran Tuhan, dalam ucapan seorang dalang sering dikatakan ..... tansah sumanding kitab suci wahyuning Ilahi.
              Aku dalam bahasa Jawa Juga disebut Ingsun, Ingsun adalah
Dalam hal cinta Orang Jawa
              Orang Jawa menyebut istilah Puber dengan istilah pecah pamore, artinya memancarnya cahaya dari dalam diri manusia, pancaran jiwa tersebut hanya dapat ditangkap oleh lawanjenisnya, namun dari gelagat yang muncul dapat diketahui oleh orang lain, gejolak pancaran jiwa yang terjadi dengan munculnya indikator-indikator dalam tingkah lakunya,  orang yang sedang mengalami pubertas maka seseorang akan banyak memunculkan ide-ide, dalam bahasa Jawanya Uneg-uneg  yang akan diungkapkan terhadap lawannya.
Dalam perkembangan seksual manusia Jawa dikelompokkan pada 3 kategori guru loka, endra loka dan jana loka. guru loka, maknanya Kepala  endra loka  maknanya dada, dan  jana loka, artinya kemaluan . Pada tataran  jana loka- inilah manusia mengembangkan daya seksual berupa cinta, kemesraan dan lain sebagainya.  
Dalam hal seni dan kejiwaan.
            Seni adalah pancaran perwujudan jiwa, yang merupakan gejolak jiwa dengaan ketinggian estetika, sesuai dengan keadaan jiwa pada usianya, gending soran,  Alusan, . Gending menggambarkan gejolak jiwa orang. ritme gending secara langsung mampu mempengaruhi suasana orang-orang mendengarkannya, jiwa akan menjadi kasar atau halus yang merupakan hasil pengarus irama, seseorang yang hidup di dalam suasana yang riuh, bising, semprawut, maka orang-orangnya cenderung bersifat keras, kasar sehingga irama dapat dikatan amurba irama, artinya penguasaan oleh musik. sumber ego. Namun tidak menutup kemungkinan suasana alam mempengaruhi musik, misalnya suatu daerah yang suasananya panas maupun daerah yang memiliki suasana dingin, keadaan masyarakat yang tenang maka juga akan mempengaruhi gejolak alunan musik daerah tersebut.
             Ketika gending berubah menjadi gendhung maka yang terjadi adalah cideranya iramayang cacat, pukulan irama yang kasar dan keras, jiwa manusia berubah menjadi angkuh, selanjutnya gending beraubah  gendheng,  alunan musik semakin kehilangan irama, kehidupan menjadi kasar, masyarakat tidak lagi peraturan yang selaras sehingga tidak lagi enak dirasakan.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar